Dihajar 53 Kali Gempa, 2 Ribu Rumah Rusak - Warta 24 Maluku Utara
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}
www.uhamka.ac.id/reg

Dihajar 53 Kali Gempa, 2 Ribu Rumah Rusak

Dihajar 53 Kali Gempa, 2 Ribu Rumah Rusak

Post Views: 29 AKIBAT GEMPA â€" Warga berjalan melewati rumah yang hancur akibat gempa di Citalahab, Desa Melasari, Nanggung, Bogor, Rabu (24/01). Puluhan rumah penduduk di kaw…

Dihajar 53 Kali Gempa, 2 Ribu Rumah Rusak

Post Views: 29 Dihajar 53 Kali Gempa, 2 Ribu Rumah Rusak

AKIBAT GEMPA â€" Warga berjalan melewati rumah yang hancur akibat gempa di Citalahab, Desa Melasari, Nanggung, Bogor, Rabu (24/01). Puluhan rumah penduduk di kawasan ini rusak akibat gempa.
SOFYANSYAH/RADAR BOGOR

*Tersebar Dibeberapa Daerah di Banten
*Pasifik Diwarnai Aftershock

JAKARTA â€" Getaran di cincin api pasifik belum sepenuhnya mereda. Sampai Jumat sore (26/1) Halaman United States Geological Survey (USGS) menampilkan setidaknya 60 gempa dengan rentang 25 hingga 26 Januari. 9 diantaranya memiliki magnitude cukup besar.

Gempa yang cukup besar melanda pantai barat Ferndale, California Amerika Serikat (AS) dengan kekuatan 5,8 Skala Richter (SR). Terjadi pada kamis sekitar pukul 23.39 waktu pasifik (UTC). Sejam kemudian terjadi lagi gempa dengan kekuatan 5.0 SR hanya 7 kilometer dari posisi semula. Gempa 5.9 SR juga terjadi di dekat kepulauan Andaman dan Nikobar, India. Disusul gempa 6,2 SR di perairan lepas semenanjung Kamchatka, Rusia.

Gempa susulan juga masih mewarnai sekitar teluk Alaska paska gempa 7.9 SR yang mengguncang kodiak pada Selasa (23/1). Tercatat 2 gempa terjadi pada jumat pukul 06.55 dan 08.09. Pada jumat pagi, Gempa juga mengguncang selatan kepulau Fiji.

Sesar di lepas pantai Selatan Banten hingga kemarin belum juga tenang. Pada Jumat siang (26/1) pukul 11.48, Gempa kembali mengguncang dengan kekuatan 5,1 SR. Episentrum gempa terletak 72 km di barat daya Kabupaten Lebak pada kedalaman 26 Km. Disusul kemudian gempa di barat laut Halmahera selatan.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat 53 kali gempa susulan semenjak gempa pertama pada Selasa (23/10). Dengan magnitudo dan ke dalaman yang bervariasi. Skala getaran yang dirasakan di Lebak, Tangerang, Jakarta hingga bogor relatif kecil, yakni II hingga III MMI (modified mercalli intensity).

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono mengatakan bahwa hingga saat ini kekuatan gempa masih fluktuatif. “Namun secara umum meluruh dan melemah, frekuensi kejadiannya pun semakin jarang,” kata Daryono pada Jawa Pos kemarin (26/1).

Jumlah kerusakan di Banten terus naik setelah dihajar 53 kali gempa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatatat bahwa sudah ada 2.760 rumah yang rusak. Tersebar di 73 kecamatan, dalam 9 kabupaten/kota pada 3 provinsi (Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta).

Satu orang dipastikan meninggal dunia akibat gempa yaitu Nana Karyana (40) karena serangan jantung. “Saat gempa korban sedang memperbaiki atap genteng rumah. Dia kaget dan jatuh kemudian pingsan dan akhirnya meninggal dunia,” kata Kapusdatin dan Humas BNPB, Sutopo Purw o Nugroho.

Sementara korban luka berjumlah 11 orang. Dengan rincian 7 orang luka berat dan 4 luka ringan. Rumah yang rusak terdiri dari 291 yang mengalami rusak berat (RB), 575 rusak sedang (RS), dan 1.894 rusak ringan (RR). “Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Lebak yang paling parah. Karena dekat dengan pusat gempa,” katanya.

Selain rumah, ada 7 unit fasilitas peribadatan, 2 unit fasilitas kesehatan, 17 unit fasilitas pendidikan, 6 unit kantor/gedung pemerintahan, dan 63 unit fasilitas umum yang rusak karena gempa.

Sutopo menjelaskan hingga saat ini pendataan masih dilakukan oleh BPBD Provinsi Banten. Data masih terus diverifikasi oleh sampai detail (by name by address). “Kerusakan diperkirakan bertambah. Kerugian diperkirakan ratusan milyar rupiah,” katanya.

Bupati Lebak telah menetapkan Surat Keputusan Status Tanggap Darurat penanganan gempa di Kabupaten Lebak yang berlaku 14 hari sejak selasa (23/1) hingga rabu mendatang (5/2).

BNPB tela h menyalurkan bantuan logistik senilai Rp 302,9 juta kepada BPBD Lebak. Bantuan berupa sandang 25 paket, tenda gulung 20 lembar, karung plastik 3.000 lembar, kantung mayat 5 lembar, perlengkapan sekolah 300 paket, perlengkapan makan 160 paket, paket rekreasional 140, peralatan dapur keluarga 40, kidsware 45 paket, familykit 10 paket dan paket kesehatan keluarga 10 paket. Selain itu juga bantuan 1 unit mobil double gardan untuk operasional BPBD.

Kepala BNPB Willem Rampangilei menguraikan, pihaknya mengambil dua kebijakan dalam penanganan pascagempa. Pertama adalah penanganan manusianya. Kebutuhan dasarnya harus dipenuhi. ”Dukungan logistiknya, pelayanan dasarnya, termasuk untuk kegiatan belajar mengajar,” tutur Willem.

Sejauh ini, khusus untuk sarana pendidikan, tidak ada satupun ang rusak sehingga kegiatan belajar tetap bisa berjalan normal. Untuk pengungsi, hasil pengecekan di lapangan nihil. Sebab, warga yang terdampak memilih mengungsi di rumah kerabatnya yang k ediamannya tidak terdampak.

Kedua, penanganan material. Yakni, percepatan untuk melakukan rehabilitasi. Rumah-rumah yang rusak berat harus segera dibangun kembali dengan sistem bantuan stimulan dari pemerintah. ”Nilai stimulannya masih dibicarakan di daerah, karena satu tempat dengan tempat lainnya tidak sama, tergantung indeks kemahalan harga bangunan,” lanjut pria 62 tahun itu.

Sebagai catatan, tuturnya, pemberian stimulan diberikan dengan standar rumah tipe 36. Menurut Willem, bila ada rumah yang rusak akibat gempa, tidak mungkin BNPB membangunkan rumah sampai bentuknya kembali seperti sedia kala. Mengingat besar kecilnya rumah maupun nilainya juga berbeda-beda.

”Bantuan stimulan yang diberikan pemerintah maksudnya supaya masarakat yang terdampak itu seera bisa memulai untuk mendirikan rumahnya,” jelasnya. Dia mencontohkan letusan gunung Sinabung. Nilai stimulannya Rp 59 juta. Kemudian, di Manado, stimulannya Rp 36 juta. Itu menyesuaikan tingkat kemah alan untuk standar rumah tipe 36 di masing-masing daerah.

Untuk Banten, pihaknya masih menunggu hitungan dari masing-masing pemkab. Berapa nilai bantuan stimulan yang sesuai dengan indeks kemahalan harga material di masing-masing kabupaten. ”Ada dana cadangan penanggulangan bencana yang ada di Kementerian keuangan yang disebut sebagai dana siap pakai,” tambahnya. Dana itulah yang akan digunakan untuk stimulan.

Indonesia Kekurangan Sensor Gempa

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menuturkan bahwa Indonesia masih kekurangan sensor gempa. Saat ini di seluruh wilayah Indonesia hanya ada 170 sensor gempa. “Yang masih belum rapat itu Indoesia timur di Papua. Kan mereka harus dilindungi tak hanya di Jawa saja,” ujar dia di kantor BMKG, kemarin (26/1 Dia membandingkan dengan negara Jepang yang memiliki sensor gempa lebih dari seribu unit. Padahal, wilayah Jepang hanya sekitar Jawa Barat saja. “Ya Indonesia enam juta kilometer persegi, sensor gempanya hanya 170,â € ungkap Rita, sapaan akrabnya. BMKG sedang mengupayakan untuk penambahan sensor tersebut.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa setiap tahun rata-rata jumlah gempa lebih dari 2 ribu kali. Tapi, yang memiliki amplitudo atau kekuatan lebih dari 5 skala richter sekitar 360 kali di seluruh Indonesia. “Jadi hampir tiap hari gempa,” tambah dia.

Kesiapan infrastruktur untuk menghadapi bencana alam termasuk gempa juga perlu mendapatkan perhatian. Rita menuturkan infrastruktur jalan juga tak luput dari potensi kerusakan akibat gempa. Diantaranya di pantai barat Sumatara, pantai selatan Jawa, dan trans Sulawesi.

“Kerentanannya itu terjadi karena dijalur-jalur gempa tadi. Tapi dimanapun di Indonesia itu kita hampir tidak bisa menghindar dari gempa. Cuma gimana caranya saat gempa itu aman. Itu yang kita jaga,” ujar mantan Rektor Universitas Gadjah Mada itu. (tau/byu/jun)

Sumber: Google News | Warta 24 Halmahera Selatan

Tidak ada komentar