WARTA 24 MALUKU UTARA

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Praktik Politik Dinasti Masih Berlanjut di Pilkada 2018

Posted by On 13.58

Praktik Politik Dinasti Masih Berlanjut di Pilkada 2018

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menyatakan politik dinasti pada Pilkada Serentak 2018 ini masih berlanjut. Ini karena perhitungan parpol yang terbilang pragmatis saat mengusung pasangan calon.
"Harus dikaji ya, harus dilihat juga data-data yang ada di kabupaten/kota, tapi sejauh ini praktik itu masih berlanjut," kata dia kepada Republika.co.id, Kamis (11/1).
Masih adanya politik dinasti, menurut Titi, karena pengusungan pasangan calon (paslon) oleh partai politik (parpol) lebih didasarkan pada sosok figur ketimbang pertimbangan lain seperti visi-misi, gagasan atau program yang dimiliki, dan ideologi. Menurutnya, aspek figur masih mendominasi pertimbangan partai dalam mengusung paslon.
"Jadi perhitungan parpol untuk mengusung calonnya itulah yang membuat dinasti politik menjadi terus berlanjut, karena kriterianya pragmatis," kata dia.
Contoh pengusungan secara pragmatis ini, jelas Titi, yakni dengan melihat sisi elektabilitas, popularitas, uang dan basis sosial yang dimiliki sosok yang hendak dipilih untuk kemudian diusung. Kriteria seperti ini, menurutnya, tentu rata-rata telah dimiliki mereka yang berada di pusaran politik dinasti.
"Itu kan rata-rata mereka punya, tapi kalau apakah kemudian rekrutmennya (pengusungannya) demokratis apa tidak, melibatkan struktur partai dari bawah atau tidak, itu sudah lain lagi," kata dia.
Ada enam provinsi yang masih menjalankan cara-cara dinasti politik. Enam itu adalah Pilgub Sumatra Selatan, Pilgub Sulawesi Tenggara (Sultra), Pilgub Nusa Tenggara Barat, Pilgub Sulawesi Selatan, Pilgub Maluku Utara, dan Pilgub Kalimantan Barat.
Di Pilgub Sumsel, ada pasangan cagub dan cawagub Dodi Reza Noerdin-Giri Ramanda Kiemas. Dodi adalah anak dari gubernur pejawat, Alex Noerdin, sed angkan Giri merupakan keponakan Taufiq Kiemas. Pasangan ini diusung PDIP, PKB dan Golkar.
Di Pilgub Sultra, ada pasangan cagub dan cawagub Asrun-Hugua. Asrun sebelumnya adalah wali kota Kendari dua periode, yang habis masa baktinya pada Oktober 2017 lalu. Kemudian trah kekuasaan di Kota Kendari itu dilanjutkan oleh anaknya, Adriatma Dwi Putra. Asrun juga mempunyai paman yang sekarang menjadi Bupati Konawe Selatan. Selain itu, besan dari Asrun, yaitu Ahmad Safei, adalah Bupati Kolaka.
Dinasti politik pada Pilkada Serentak 2018 ini juga ada di NTB. Kakak dari gubernur NTB Zainul Majdi, Sitti Rohmi Djalilah, menjadi cawagub NTB mendampingi cagub Zulkiflimansyah. Pasangan ini diusung oleh PAN, PKS, Gerindra, dan Demokrat.
Adapun, di Pilgub Sulawesi Selatan, cagub Ichsan Yasin Limpo, yang berpasangan dengan Andi Muzakkar, ini adalah adik dari gubernur Sulsel saat ini, Syahrul Yasin Limpo. Pasangan ini tidak diusung dari partai tapi melalui jalur independen.
Di Pilgub Malu ku Utara, bahkan ada dua pasangan calon yang memiliki hubungan keluarga. Dua paslon tersebut adalah Abdul Ghani Kasuba-Al Yasin Ali yang diusung PDIP dan PKPI, dan paslon Muhammad Kasuba-Madjid Husen yang diusung Gerindra, PKS dan PAN. Abdul Ghani dan Muhammad Kasuba adalah kakak-beradik. Ghani merupakan cagub pejawat. Pada 2014 lalu dia dilantik menjadi gubernur Maluku Utara untuk periode pertamanya. Muhammad Kasuba sendiri adalah mantan bupati Halmahera Selatan.
Adapun di Pilgub Kalbar, cagub Karolin Margret, yang berpasangan dengan Suryatman Gidot, ini adalah anak dari gubernur Kalbar sekarang, Cornelis. Cornelis adalah gubernur Kalbar dua periode sejak 2008. Paslon Karolin-Suryatman diusung Demokrat dan PDIP.

Sumber: Google News | Warta 24 Halmahera Selatan

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »